Kasus
pornografi dan kekerasan seksual masih menjadi ancaman bagi generasi muda
negeri ini. Bahkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan belanja untuk
pornografi pada tahun 2014 mencapai Rp 50
triliun yang sebagian besar digunakan untuk perdagangan manusia dan anak-anak. Kondisi
ini harus segera diatasi terlebih melihat sasaran dari pornografi dan kekerasan
seksual adalah pemuda dan anak-anak yang merupakan aset negeri ini. Berangkat
dari kondisi tersebut, Bu Menteri pun mengusulkan solusi untuk memberikan
hukuman berupa pemutusan syaraf libido bagi pelaku kekerasan seksual dan
kejahatan seksual. Akan tetapi jika melihat solusi yang ditawarkan tersebut, pemerintah
cenderung mengambil tindakan kuratif. Sedangkan dari segi preventif sendiri,
pemerintah kurang mengambil tindakan. Hal tersebut dapat dilihat dari masih mudahnya akses
pornografi mulai dari media internet hingga bertebarannya majalah-majalah
berbau porno yang mudah didapatkan di pinggir jalan. Tontonan televisi pun ikut
andil menyebar hal-hal berbau porno dan seks. Dengan kata lain, fasilitas untuk
mengakses konten berbau pornografi dan seks sangat mudah didapat bahkan untuk
anak-anak sekalipun. Tanpa upaya preventif yang serius dari pemerintah, akan
sulit untuk dapat mengatasi masalah pornografi dan kekerasan seksual hingga ke
akarnya. Setiap komponen baik keluarga, pendidikan, masyarakat, dan pemerintah,
masing-masing juga harus mengambil peran dan saling bersinergi untuk membebaskan
negeri ini dari darurat pornografi dan kekerasan seksual. Orang tua dalam
keluarga harus memperhatikan setiap tumbuh kembang anak. Bukan hanya memenuhi
kebutuhan materi saja. Sedangkan dari segi pendidikan, sekulerisme begitu
kental terasa. Porsi pendidikan agama yang kecil dan dengan penanaman akidah
serta pemahaman syariat yang kurang membuat anak sejak usia dini kurang mendapat
bekal untuk menyaring hal-hal yang mengarah kepada pornografi dan seks. Kontrol
masyarakat pun juga semakin memudar. Fasilitas-fasilitas yang mengarah ke
pornografi dan seks dibiarkan saja asalkan tidak menimbulkan masalah bagi
mereka atau mengganggu kepentingan mereka. Sudah saatnya pemerintah perlu
mengambil peran sebagai pihak yang menyinergikan setiap komponen-komponen
penting tersebut selain menerapkan tindakan preventif yang serius dan tindakan
kuratif yang tegas dan menimbulkan efek jera.
Sistem pendidikan merupakan salah satu sistem krusial dari
suatu bangsa. Kualitas dari generasi penerus bangsa sangat ditentukan bagaimana
sistem pendidikan bangsa tersebut membentuk mereka. Sehingga perbaikan kualitas
sistem pendidikan maupun peningkatan sarana dan prasarana pendukung dari sistem
pendidikan tersebut harus selalu diperhatikan. Seperti halnya tahun ini, dimana
kurikulum baru mulai diterapkan di sistem pendidikan Indonesia.
Kurikulum 2013 menjadi fenomena yang besar di Indonesia
karena bentuk dan pelaksanaan kurikulum ini sangat berbeda dengan
kurikulum-kurikulum sebelumnya terutama di tingkat pendidikan dasar. Untuk
lebih jelas mengenai kurikulum 2013 dapat dilihat pada sumber berikut. Dukungan maupun penolakan mewarnai pelaksanaan dari kurikulum ini.
Dukungan datang karena kurikulum 2013 ini dalam
penyusunannya diklaim telah melalui penelitian dan persiapan sejak tahun 2010 (lihat berita). Sedangkan penolakan muncul karena pemerintah dinilai belum siap
melaksanakan kurikulum 2013 yang dapat dilihat dari keterlambatan buku-buku
pendukung di banyak sekolah dan minimnya pelatihan serta sosialisasi dari
pemerintah tentang kurikulum 2013 (lihat berita).
Perubahan kurikulum pendidikan diharapkan mampu meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, cukupkah dengan perubahan
kurikulum tersebut mampu membawa Indonesia menjadi bangsa mandiri, kuat, dan
terdepan? Selain itu, meskipun perubahan kurikulum terus dilakukan untuk
memperbaiki kualitas pendidikan tetapi jika akses pendidikan itu sendiri masih
sulit dijangkau semua kalangan masyarakat maka pencetakan generasi-generasi
penerus bangsa yang berkualitas pun tidak akan optimal. Dari data yang
dikeluarkan Badan Pusat Statistik(BPS) tahun 2013, rata-rata nasional angka
putus sekolah usia 7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia
13–15 tahun sebanyak 2,21 persen, atau 209.976 anak; dan usia 16–18 tahun
semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak. Data tersebut menunjukkan,
pendidikan yang menjadi kebutuhan pokok ternyata masih belum dinikmati seluruh
anak maupun pemuda di Indonesia.Bahkan catatan dari Dikti menunjukkan sekitar
3,2 juta remaja usia kuliah belum mengenyam pendidikan tinggi di Provinsi Jawa Tengah
(lihat berita).
Kendala-kendala yang menyebabkan pendidikan di Indonesia
belum terjangkau semua kalangan masyarakat tidak dapat begitu saja diabaikan
karena hal tersebut merupakan masalah yang telah mengakar sejak lama.
Mengapa dari hasil pengerukan emas oleh freeport seakan belum mampu memenuhi kesejahteraan di Indonesia? Kemana hasil tambang itu pergi? Ke kantong perusahaan freeport jelas, pemerintah harusnya juga kecipratan. Pertanyaannya, berapa besar pemerintah mendapat keuntungan dari hasil pengerukan emas di papua tersebut? Terdapat analisis yang menunjukkan bahwa pemerintah mendapat cukup benyak keuntungan dari hasil eksplorasi emas oleh freeport. Tapi mengapa yang kembali ke masyarakat seperti hilang dihembus angin? Sebagai rakyat Indonesia tentu inginnya Tambang di Papua tersebut bisa dikuasai pemerintah seutuhnya tetapi hasilnya pun juga kembali ke rakyat sepenuhnya. Yang menjadi pertanyaan berikutnya, jika freeport berhasil ditendang oleh Indonesia, bagaimana kelanjutan pengelolaannya?
Fakta yang harus dilingkari yaitu tambang yang ada di Papua yang harusnya dimiliki oleh umum sekarang dikuasai oleh para kapitalis. Dimana para kapitalis tersebut sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia tetapi bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Ada kemungkinan fakta lain, para pemegang kekuasaan yang diberi mandat untuk membentuk hukum kerjasama belum mau berpihak pada rakyat.
Negara harus berani dan mau mengelola setiap sumber daya alam di Indonesia dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan umum. Secara bertahap harusnya Indonesia mampu mengelola sendiri tambangnya. Jika dihitung waktu sejak dimulainya perjanjian sejak 1967 hingga 2014 (47 tahun), tidak cukupkah untuk mempersiapkan pengelolaan tambang secara mandiri?
Dalam Islam dengan tegas dinyatakan bahwa kekayaan alam seperti tambang emas di Papua dan tambang-tambang lainnya yang depositnya besar adalah milik umum, milik bersama seluruh rakyat, dan harus dikelola oleh negara mewakili rakyat.
Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Fakta yang harus dilingkari yaitu tambang yang ada di Papua yang harusnya dimiliki oleh umum sekarang dikuasai oleh para kapitalis. Dimana para kapitalis tersebut sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia tetapi bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Ada kemungkinan fakta lain, para pemegang kekuasaan yang diberi mandat untuk membentuk hukum kerjasama belum mau berpihak pada rakyat.
Negara harus berani dan mau mengelola setiap sumber daya alam di Indonesia dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan umum. Secara bertahap harusnya Indonesia mampu mengelola sendiri tambangnya. Jika dihitung waktu sejak dimulainya perjanjian sejak 1967 hingga 2014 (47 tahun), tidak cukupkah untuk mempersiapkan pengelolaan tambang secara mandiri?
Dalam Islam dengan tegas dinyatakan bahwa kekayaan alam seperti tambang emas di Papua dan tambang-tambang lainnya yang depositnya besar adalah milik umum, milik bersama seluruh rakyat, dan harus dikelola oleh negara mewakili rakyat.
Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Kita adalah manusia yang memiliki potensi dari Allah.
Mengapa penting untuk mengenali potensi diri kita sebagai manusia? Penting
untuk mengenali agar cara kita dalam memenuhi potensi kita tersebut tidak
keliru. Sebagai contoh kasus tawuran yang biasanya diawali rasa ingin diakui (ingin
berkuasa), bentuk pemujaan dengan sesajen, meluapkan kasih sayang dengan
pergaulan bebas, dll. Cara-cara tersebut
merupakan cara salah menurut agama Islam. Sehingga sebagai seorang muslim tentu
kita tidak menginginkan tindakan kita tidak sesuai syariat Islam karena setiap
tindakan yang bertentangan dengan syariat akan mendatangkan dosa. Kalau begitu,
apa saja potensi yang dimiliki manusia?
Manusia memiliki dua potensi yaitu potensi hidup dan potensi
akal. Potensi hidup terdiri dari kebutuhan biologis dan naluri. Makan jika
lapar, istirahat jika lelah, bersih diri merupakan contoh-contoh kebutuhan
biologis manusia yang rangsangannya berasal dari dalam tubuh dan jika tidak
dipenuhi dapat mengantarkan pada kematian. Sedangkan untuk naluri masih terbagi
menjadi tiga yaitu naluri mempertahankan diri, naluri kasih sayang, dan naluri
beragama. Untuk naluri, rangsangan berasal dari luar dan jika tidak dipenuhi
tidak sampai mengantarkan kepada kematian tetapi rasa gelisah. Jika kita telah
mengetahui macam potensi hidup kita maka dalam memenuhi potensi hidup tersebut harus
sesuai aturan Allah. Jika kita belum tahu maka kita perlu mencari tahu. Untuk
itulah Allah menurunkan Al Quran dan member potensi lain yaitu potensi akal.
Potensi akal ini lah yang membedakan manusia dengan hewan. Hewan pun juga sama
memiliki naluri-naluri dan kebutuhan biologis seperti manusia yang membedakan
adalah cara memenuhinya. Sehingga kita sebagai manusia dalam memenuhi naluri
dan kebutuhan biologis haruslah berbeda dengan hewan karena kita memiliki
potensi akal yang tidak dimiliki hewan.
Jika kita telah mengetahui potensi kita dan cara
pemenuhannya maka saatnya mengoptimalkan hidup kita. Optimal dalam apa? Optimal
sesuai dengan syariat Allah, optimal dalam meraih pahala Allah dan surga Allah.
Orang bisa berubah dan perubahan yang dibuat memiliki dua
potensi, apakah perubahan menuju ke arah lebih baik atau justru perubahan yang
lebih buruk. Kisah Ustad Hari Mukti yang awalnya adalah seorang rockers yang
tidak lepas dari gemerlap dunia keartisan, akhirnya memutuskan meninggalkan
dunia tersebut dan memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Kisah serupa juga
dialami Diam seorang rapper wanita terkenal berkebangsaan Prancis. Gelimang
harta dan popularitas ternyata tidak menjamin kebahagiannya. Pertanyaan tentang
kehidupan terus menggelayuti hidupnya hingga akhirnya dia pun memilih Islam dan
menutup aurat secara sempurna. Perubahan yang dialami kedua orang tersebut
sering disebutkan karena merekalah orang-orang yang diberi hidayah. Namun
benarkah semata-mata hidayah tersebut yang merubah mereka? Apakah tidak ada
campur tangan usaha manusia dalam ranah hidayah?
Al Quran adalah
hidayah bagi kaum muslim dan dia telah turun kepada kita dengan dibawa oleh
Rasulullah SAW. Jika hidayah tersebut telah turun kepada kita, mengapa kita
masih ragu untuk berubah? Berubah menjadi muslim sempurna yang meletakkan dasar
setiap aktivitas hanyalah kepada syariat Allah. Benar dan buruk disesuaikan
dengan perintah dan larangan Allah. Sesungguhnya ibarat membaca petunjuk ke
suatu tempat tadi, maka hidayah-hidayah berikutnya akan datang ketika kita
mulai melakukan petunjuk yang telah diturunkan tersebut kepada kita. Adalah janji Allah jika kita berusaha mencari
petunjuk Allah, maka akan dimudahkan oleh Allah.
![]() |
| Diam yang rapper dari Prancis yang berubah menjadi muslimah dengan menutup aurat secara sempurna |
![]() |
| Hari Mukti, rocker asal Indonesia yang memilih jalan Islam sebagai jalan hidupnya |
Sebelumnya, mari kita lihat sebenarnya bagaimana Islam
membagi ranah aktivitas manusia. Aktivitas manusia terbagi menjadi dua yaitu aktivitas
di luar kendali manusia dan aktivitas yang berada di dalam kendali manusia. Aktivitas
yang berada di luar kendali manusia merupakan aktivitas yang kita tidak ada
campur tangan atasnya, kita hanya dapat menerima saja dari Allah. Contoh dari
aktivitas tersebut antara lain bencana alam (kita tidak akan bisa menentukan
kapan dan dimana bencana tersebut terjadi), jenis kelamin, siapa orang tua
kita, bentuk fisik kita, dan kematian. Oleh karena kita tidak memiliki andil
dalam ranah-ranah tersebut maka kita pun tidak akan dimintai pertanggung
jawaban oleh Allah atasnya. Sedangkan untuk aktivitas yang ada di dalam kendali
kita, maka kita dapat memilih aktivitas mana yang akan kita lakukan. Allah
telah memberikan modal kepada kita berupa akal dan waktu dimana setiap manusia
pasti memilikinya. Akal digunakan untuk menentukan yang benar dan yang salah.
Benar dan salah menurut siapa? Tentu menurut Allah SWT. Pada ranah aktivitas
inilah kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah karena kita sendiri
yang menentukan aktivitas mana yang akan kita pilih. Lalu aktivitas mana yang
seharusnya kita pilih? Jika pilihan tersebut diantara pilihan yang baik dan buruk maka yang kita
pilih adalah yang baik, tetapi jika pilihan tersebut diantara pilihan-pilihan
yang baik maka sebagai seorang muslim, aktivitas yang seharusnya kita pilih
adalah aktivitas yang lebih mendekatkan kita kepada ridho Allah. Dimana posisi
hidayah?
Hidayah menurut bahasa berarti petunjuk. Ibarat jika kita
membaca suatu petunjuk ke suatu tempat dimana tempat tersebut masih begitu
asing, tentu ada rasa bingung, pusing, atau ragu-ragu untuk mengikuti petunjuk
tersebut. Tetapi jika kita membaca sambil bergerak mengikuti petunjuk tersebut
maka arah petunjuk tersebut akan semakin jelas. Sedangkan jika kita hanya
membaca saja tanpa melakukan pergerakan maka jangan harap kita mampu menuju
tempat tersebut. Begitu juga dengan hidayah. Sebenarnya hidayah telah turun
kepada umat muslim. Dlam bentuk apa? Allah berfirman:
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri"
(TQS an-Nahl [16]: 89)
Al Quran adalah
hidayah bagi kaum muslim dan dia telah turun kepada kita dengan dibawa oleh
Rasulullah SAW. Jika hidayah tersebut telah turun kepada kita, mengapa kita
masih ragu untuk berubah? Berubah menjadi muslim sempurna yang meletakkan dasar
setiap aktivitas hanyalah kepada syariat Allah. Benar dan buruk disesuaikan
dengan perintah dan larangan Allah. Sesungguhnya ibarat membaca petunjuk ke
suatu tempat tadi, maka hidayah-hidayah berikutnya akan datang ketika kita
mulai melakukan petunjuk yang telah diturunkan tersebut kepada kita. Adalah janji Allah jika kita berusaha mencari
petunjuk Allah, maka akan dimudahkan oleh Allah.
"Dan orang-orang yang
berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang
yang berbuat baik."
(Al Ankabut: 69)
(Al Ankabut: 69)
Ketika kita menengok ke sebuah sungai, apa saja yang biasa
kita temui di sungai? Sampah, batu, dan ikan. Ketiganya memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Sebagai contoh sampah yang hanya bisa mengikuti arus sungai kemana
ia dibawa pergi. Lain lagi dengan batu yang lebih banyak diam dan tidak
mengalami perubahan. Sedangkan ikan mampu menentukan arah tujuannya sendiri.
Sekuat apa pun arusnya, ia akan terus berusaha mempertahankan arah untuk mencapai
tujuannya. Sebagai seorang manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita
bisa memilih apakah mau menjadi sampah, batu, atau ikan. Apabila kita telah
sadar bahwa sejatinya kita hidup di dunia sebagai seoran muslim, maka
seharusnya kita dapat memposisikan diri sebagai ikan. Seorang muslim yang tetap
bertahan mempertahankan tujuan hidupnya meskipun arus penghadang baik dari
nafsu pribadi maupun lingkungan begitu kuat. Jika kita kembali kepada tujuan
hidup seorang muslim di dunia yaitu pada surat Adz- Dzariyat: 56, "Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”, maka
untuk menjadi sosok layaknya ikan, kita akan selalu berusaha untuk beribadah (menjalankan
segala aturan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya) mekipun banyak godaan yang datang.
Lalu bagaimana dengan kondisi pemuda saat ini? Ternyata mayoritas dari mereka
pun lebih memilih menjadi batu atau sampah. Gambaran-gambaran seperti geng
motor, clubbing, shopping menjadi hal yang dianggap keren dan anak muda banget. Akan tetapi jika kita melihat
kelompok-kelompok kajian Islam atau sejenisnya, rasanya hal tersebut terkesan eksklusif dan hanya orang yang
benar-benar alim yang ada di dalamnya. Padahal kita tahu mengkaji Islam adalah
kewajiban bagi setiap muslim. Seharusnya kajian-kajian Islam seperti itu yang
kita anggap keren dan anak muda banget karena
berarti mereka lah para pemuda visioner
yang mampu menembus pandang hingga kehidupan setelah dunia.
Kehidupan di dunia ini layaknya seorang musafir yang
melakukan perjalanan. Hal-hal yang perlu disiapkan antara lain darimana kita
akan berangkat? Untuk apa kita berangkat? dan Akan kemana tujuan kita pergi?
Kehidupan pun akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Darimana kita?
Untuk apa kita di dunia? Dan kemana kita setelah kehidupan di dunia? Islam telah
memberikan jawabannya dan jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut kembali
bermuara pada Allah swt.
Kita tidak bisa menutup mata jika saat ini kondisi umat
sedang dalam keadaan terpuruk. Kasus bunuh diri masih sering dijumpai dimana penyebabnya
lebih sering karena himpitan ekonomi. Akan tetapi tak jarang juga ditemui
penyebabnya dikarenakan masalah sepele seperti putus dengan pacar atau gagal
skripsi. Seperti inikah mental kaum muslim?
Indonesia yang dikenal sebagai penduduk dengan jumlah muslim
terbesar di dunia ternyata di sisi lain berada di urutan 114 dari 177 negara sebgai negara TAK KORUP. Mengapa kondisi umat muslim tergambar
seperti ini? Apakah memang kondisi ini sudah menjadi warisan sejak dulu? Tentu
TIDAK, karena dulu kita masih bisa menemui sosok-sosok tangguh seperti Bilal
bin Rabbah dan kisah para panglima Perang Mu’tah. Siapa mereka?
Murtad dari agama Islam pun seperti sudah menjadi hal biasa
terutama di kalangan artis. Hanya karena atas nama cinta, keimanan digadaikan. Bahkan
keimanan pun bisa dibeli hanya dengan sodoran bantuan bencana seperti kasus
murtadnya pengungsi merapi di Boyolali pada tahun 2010. Semurah itukah harga
keimanan seorang muslim?
Indonesia yang dikenal sebagai penduduk dengan jumlah muslim
terbesar di dunia ternyata di sisi lain berada di urutan 114 dari 177 negara sebgai negara TAK KORUP. Mengapa kondisi umat muslim tergambar
seperti ini? Apakah memang kondisi ini sudah menjadi warisan sejak dulu? Tentu
TIDAK, karena dulu kita masih bisa menemui sosok-sosok tangguh seperti Bilal
bin Rabbah dan kisah para panglima Perang Mu’tah. Siapa mereka?
Bilal bin Rabbah adalah seorang budak kafir Quraisy,
Umayyah. Umayyah yang sangat memusuhi Rasulullah begitu mengetahui budaknya
ternyata pengikut Rasulullah tentu sangat murka. Bilal pun disiksa dengan
dilentangkan di panasnya padang pasir dan dadanya ditindhi batu. Umayyah
berkata bahwa ia akan membebaskan Bilal jika ia mau kembali ke ajatan nenek
moyang mereka yaitu kembali menyembah Latta dan Uzza. Tetapi apa yang dikatakan
Bilal, ia berkata ‘ahad.. ahad…’ yang berarti hanya Allah yang satu. Begitu
mahal bukan keimanan Bilal? Nyawanya pun siap dipertaruhkan demi keimanan.
Perang Mu’tah merupakan perang antara pasukan muslim dengan
pasukan romawi dimana jumlah tentara muslim 3,000 sedangkan jumlah pasukan
romawi 200,000. Rasulullah memerintahkan Zaid bin Haritsah sebagai panglima
pertama yang membawa bendera dan apabila nanti Zaid bin Haritsah gugur maka
bendera dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dan apabila Ja’far gugur maka yang
berikutnya memegang bendera adalah Abdullah bin Rawahah. Ketiga panglima
tersebut telah diprediksi gugur di medan pernag oleh Rasulullah. Akan tetapi
mereka tidak gentar untuk maju berjuang demi Islam karena bukanlah senjata atau
jumlah yang menjadi kekuatan mereka tetapi ISLAM. Mengapa ISLAM bisa menjadi
kekuatan yang amat dahsyat bagi mental para panglima tersebut? Mengapa begitu
berbeda dengan kondisi mental umat saat ini?
Keimanan yang menjadi pembeda. Keimanan dapat dibagi menjadi
dua yaitu keimanan rapuh dan keimanan kokoh. Kedua keimanan tersebut berbeda
cara pembentukannya. Keimanan yang rapuh dibentuk karena hanya atas dasar keturunan.
‘Saya Islam karena orang tua saya juga Islam’. Keimanan yang rapuh dibentuk karena
mayoritas. ‘Saya Islam karena kebanyakan orang di sekitar saya Islam’ (sebagai
contoh adalah Negara Turki dimana Islam hanya sebagai social identity, mengaku Islam tetapi tidak shalat, tidak menutup
aurat dan tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban muslim lainnya bahkan larangan
pun dengan bangga mereka langgar). Dan yang terakhir, keimanan yang rapuh
dibentuk karena adanya kepentingan. Apakah keimanan kita saat ini masih terbentuk
dari salah satu hal-hal tersebut? Bukankah saat ini kita sudah baligh, sudah
mampu membedakan yang haq dan yang bathil?
Bagaimana kalau begitu membentuk keimanan yang kokoh itu?
Kita telah dianugrahi Allah akal dimana akal tersebut merupakan potensi yang
bisa kita gunakan untuk menunjukkan siapa sebenarnya kita dan apa posisi kita
di dunia ini. Allah berfirman:
"…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka."
(QS. Ali 'Imraan, 3:190-191)
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu
tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
yang memikirkan." (QS. An- Nahl, 16:11)
Allah telah meminta kita untuk berpikir akan ciptaanNya
sebagai tanda kekuasaanNya. Keimanan yang kokoh tersebut pertama dibangun atas
dasar kesadaran kita bahwa kita adalah ciptaan Allah. Berikut ini ada cuplikan
video yang sayang jika dilewatkan.
Jika kita telah sadar bahwa kita adalah ciptaan Allah maka
berikutnya kita harus tahu tujuan dari penciptaan kita karena itulah yang akan
menjadi misi kita di dunia ini. Jadi masing-masing manusia sebenarnya adalah
seorang pengemban misi layaknya agen CIA. Lalu apa misi kita di dunia?
Sebelumnya mari sama-sama kita lihat ciri-ciri seorang pengemban misi.
1. Menjalankan perintah dari pihak tertentu (Allah lah yang memberikan perintah kepada manusia).
2. Memiliki sebuah misi.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 51:56)
3. Akan menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas. (Hawa nafsu dan nikmat dunia merupakan tantangan)
4. Selalu menjalin komunikasi dengan Bos-nya. (Sholat lima waktu, semakin baik komunkasi kita maka akan semakin baik pula kita melaksanakan misi.
5. Setelah misi selesai, kembali pulang untuk melapor… (Inilah yang disebut hari penghisaban, dimana kita dimintai pertanggungjawaban oleh Allah).
6. Mendapatkan timbal balik dari hasil pelaksanaan misinya. (Jika misi kita dilaksanakan dengan baik maka surge imbalannya sebaliknya jika misi kita gagal maka api neraka balsannya, naudzubillah min dzalik).
Sudah siapkah kita menjadi pengemban misi yang sukses yang berharap timbal balik surga adari Allah? Kembali kepada diri kita masing-masing, bagaimana kualitas ibadah kita. Sudahlan kita yakin semua kewajiban kita terlaksana? Sudahlan kita yakin semua larangan Allah telah kita jauhi? Jika belum, maka terus mengkaji Islam merupakan hal yang hrus dilakukan sekarang. Jangan sampai dunia melenakan kita, jangan sampai kita gagal melaksanakan misi kita. Inilah bentuk keimanan yang kokoh, keimanan yang dimiliki para sahabat nabi yang telah dijamin imbalan surga oleh Allah. Mereka sadar posisi mereka di dunia sebagai apa dan untuk apa. Ingin menjadi pengemban misi yang sukses? Rasulullah dan para sahabatlah yang patut kita jadikan teladan.
1. Menjalankan perintah dari pihak tertentu (Allah lah yang memberikan perintah kepada manusia).
2. Memiliki sebuah misi.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat, 51:56)
3. Akan menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas. (Hawa nafsu dan nikmat dunia merupakan tantangan)
4. Selalu menjalin komunikasi dengan Bos-nya. (Sholat lima waktu, semakin baik komunkasi kita maka akan semakin baik pula kita melaksanakan misi.
5. Setelah misi selesai, kembali pulang untuk melapor… (Inilah yang disebut hari penghisaban, dimana kita dimintai pertanggungjawaban oleh Allah).
6. Mendapatkan timbal balik dari hasil pelaksanaan misinya. (Jika misi kita dilaksanakan dengan baik maka surge imbalannya sebaliknya jika misi kita gagal maka api neraka balsannya, naudzubillah min dzalik).
Sudah siapkah kita menjadi pengemban misi yang sukses yang berharap timbal balik surga adari Allah? Kembali kepada diri kita masing-masing, bagaimana kualitas ibadah kita. Sudahlan kita yakin semua kewajiban kita terlaksana? Sudahlan kita yakin semua larangan Allah telah kita jauhi? Jika belum, maka terus mengkaji Islam merupakan hal yang hrus dilakukan sekarang. Jangan sampai dunia melenakan kita, jangan sampai kita gagal melaksanakan misi kita. Inilah bentuk keimanan yang kokoh, keimanan yang dimiliki para sahabat nabi yang telah dijamin imbalan surga oleh Allah. Mereka sadar posisi mereka di dunia sebagai apa dan untuk apa. Ingin menjadi pengemban misi yang sukses? Rasulullah dan para sahabatlah yang patut kita jadikan teladan.






